Saat anak-anak makin terhubung di ruang digital,
sudahkah kita memastikan mereka terhubung dengan hal yang tepat?
3 - 6 Tahun
Karakteristik:
Anak mulai bisa membayangkan sesuatu tanpa melihat langsung, tetapi masih sulit melihat dan membayangkan suatu hal lebih dari satu isi yang berbeda
Implikasi ruang digital
- Perlu pengawasan ketat karena belum mampu menyaring informasi
- Rentan terhadap konten yang berdampak emosional
7 - 12 Tahun
Karakteristik:
- Anak mulai bisa berpikir logis untuk hal-hal nyata
- Mampu menghitung, mengelompokkan dan mengikuti instruksi lengkap
Implikasi ruang digital
Masih butuh bimbingan karena belum bisa menilai konsekuensi jangka panjang dari informasi digital uang mereka dapatkan
16 - 17 Tahun
Karakteristik:
- Sudah bisa berpikir abstrak dan mempertimbagkan berbagai sudut pandang
- Rentan terhadap tekanan sosial dan emosi masih mendominasi
Implikasi ruang digital
- Cenderung impulsif dalam berbagi dan berekspresi terutama di ruang digital
- Butuh literasi digital yang menekankan kokntrol diri
13 - 15 Tahun
Karakteristik:
- Mulai mampu berpikir abstrak dan membangun hipotesis
- Namun, sering mengambil keputusan cepat karena kemampuan regulasi emosi belum matang
Implikasi ruang digital
- Rentan terhadap media informasi dan keputusan impulsif
- Perlu pendampingan dan literasi digital secara aktif
Risiko-risiko tersebut semakin signifikan dan berdampak nyata terhadap tumbuh kembang anak
Anak berada pada fase perkembangan yang rentan untuk terjerat adiksi; hal ini diperparah oleh media digital yang didesain untuk mendorong penggunaan secara terus-menerus. Penggunaan media digital yang berlebihan dapat menimbulkan permasalahan perkembangan kognitif, keterampilan berbahasa, dan juga kemampuan sosial-emosional anak.
Paparan terhadap konten yang berbahaya seperti pornografi dan kekerasan membawa dampak negatif terhadap perkembangan anak, termasuk timbulnya perilaku menyimpang seperti self-harm dan bahkan penyakit mental seperti depresi.
Risiko yang muncul ketika anak berinteraksi dengan orang lain, seperti eksploitasi seksual anak (child grooming) atau cyberbullying dapat menimbulkan kesulitan bagi anak untuk menjalin hubungan dengan orang lain, kegelisahan, dan juga gangguan stres (post-traumatic stress disorder).

